Radif’s Blog

Februari 4, 2009

LTSP

Filed under: Uncategorized — radif @ 3:35 am

LTSP ( Linux Terminal Server Projeck )

Dengan menerapkan system baru ini kita akan dapat membuat jaringan atau mendirikan warnet dengan murah karena PC yang digunakan tidak harus baru atau Pentium yang baru, dengan P2 ataupun P3 saja kita sudah dapat membuat jaringan dan juga tidah kalah cepat akses jaringannya dengan P4 yang memakai OS Windows, dengan ini kita menggunakan OS Linux. System ini dikatakan murah karena computer Client tidak perlu menggunakan hardisk sudah bisa dijalankan, cukup PC servernya saja yang menggunakan hardisk dan kelebihan lainnya dengan menggunakan OS Linux ini computer kita akan selalu sehat karena virus dilinuk tidak dapat bekerja bebas,

PERINTAH – PERINTAH LINUX BERBASIS TEXT

Command-command Dasar server Linux dan FreebSD:
1. uname -a;id <– untuk melihat jenis server dan id 2. /sbin/ifconfig | grep inet<– untuk melihat ip server 3. find / -type d -perm 777 <– untuk melihat direktori yg tidak permission denied 4. mkdir <– untuk membuat direktori baru example: mkdir tanya-dong 5. ls -alF <– untuk melihat semua file dalam sebuah direktoryclass=”fullpost”
6. wget/lwp-download/curl -f -O <– untuk mendownload file kita kedalam server 7. pwd <– untuk melihat lokasi direktory 8. cd <– untuk masuk pada direktory yang dipilih 9. rm -rf <– untuk menghapus file ato folder jg bisa 10. tar <– untuk meng-ekstrak file zip 11. cat /etc/hosts <– untuk melihat vhost-nya 12. echo “isi file”>(nama file) <– untuk membuat file, misal: [ echo “welcome”>index.html ]

ls

Perintah ini sama seperti dir pada MS-DOS yaitu untuk menampilkan isi folder.

clear

Perintah ini sama seperti cls pada MS-DOS yaitu untuk membersihkan layar.

cd

Perintah ini tidak berbeda dengan perintah di MS-DOS yaitu untuk berpindah ke direktori lain dalam sistem. Satu hal yang berbeda adalah penggunaan backslash ( \ ) pada MS-DOS harus diganti dengan slash ( / ) pada Linux. Contohnya adalah :

cd windows\system [pada windows]

cd /home/farid [pada linux]

Lanjut :

cp

Perintah ini sama seperti perintah copy pada MS-DOS. Yaitu untuk menyalin file dari satu tempat ke tempat lain.

rm

Perintah ini sama seperti perintah del pada MS-DOS. Yaitu untuk menghapus sebuah atau beberapa buah file sekaligus.

mv

Perintah ini sama seperti perintah move pada MS-DOS. Yaitu untuk memindahkan sebuah file dari satu tempat ke tempat lain.

mkdir

Perintah ini tidak berbeda dengan perintah mkdir pada MS-DOS. Yaitu untuk membuat direktori.

Pada lingkungan linux ada beberapa perintah yang sering digunakan juga, namun tidak ada pada lingkungan MS-DOS.

su

Perintah ini adalah perintah untuk berganti user menjadi Super User, yaitu user level Admin pada sistem Linux. Anda akan sering menggunakan perintah ini ketika ingin menginstall suatu program di linux dengan command line atau sekedar melakukan setting konfigurasi.

mount

Perintah yang satu ini pasti sangat asing bagi pengguna MS-DOS. Pada lingkungan MS-DOS dan Windows, sebuah drive/partisi dikenali dengan drive letter [Misalkan drive A untuk disket, drive C untuk Harddisk 1, drive D untuk cdrom, dan seterusnya] , namun pada lingkungan Linux, sebuah drive dikenali sebagai sebuah file. Misalkan saja Hardisk 1 partisi 1 dikenali sebagai file pada direktori /dev/hda1 .

Lalu untuk mengakses drive tersebut, kita perlu melakukan mounting point file /dev/hda1 tersebut pada sebuah direktori yang telah kita buat. Contoh perintah untuk melakukan mounting adalah seperti berikut :

mount -t vfat -rw /dev/hda1 /mnt/windows

Berikut penjelasan perintah tersebut :

-t vfat berarti partisi yang ingin anda akses memiliki filesystem Fat32

-rw anda memperbolehkan super user untuk melakukan read/write data pada user terebut.

/dev/hda1 adalah letak drive dan partisi anda.

/mnt/windows adalah direktori yang anda buat sebagai mounting point.

Lalu perintah ini berpasangan dengan perintah :

umount

Perintah ini berguna untuk menonaktifkan partisi dan drive yang terpasang pada sistem. Apabila drive dan partisi /dev/hda1 telah dalam kondisi mount pada direktori /mnt/windows, maka untuk menonaktifkannya cukup ketik perintah berikut :

umount /mnt/windows

Perintah lainnya yang akan sering anda gunakan, terutama saat ingin menginstall program via command prompt di Linux adalah :

tar -xvzf namafile.tar.gz

Perintah ini akan berguna untuk mengektrak file dengan ekstensi tar.gz pada sebuah folder. Program-program linux banyak yang dipaket dan dikompress menggunakan paket kompresi tar.gz.

rpm -ivh namafile.rpm

Perintah ini berguna untuk menginstall program yang dipaket dalam file berekstensi .rpm. RPM adalah paket kompresi dari Redhat yang memudahkan dalam instalasi program.

Untuk meng-uninstall program dapat menggunakan perintah berikut :

Perintah lainnya yang mungkin sering digunakan adalah :

shutdown -r now [untuk restart]

shutdown -h now [untuk shutdown]

MD ( membuat direktori )

RD ( menghapus direktori )

Is : menampilkan isi

clear : membersihkan laju

CD : membuka direktori

rm : delete

rm dir : menghapus sub folder

MV : memindahkan direktori

SU : super user

mount : untuk mounting partisi

Unmount : menonaktifkan partisi

rpm – lvh name rpm : menginstal

Shutdown -r now ( untuk merestart )

Shutdown -h now ( untuk mematikan pc )

Dmesg (untuk mendeteksi file)

useradd (membuat user baru)

Alias (mengganti nama perintah/ ubah name)

Cp (untuk mengcopy file ke directory)

Find (mencari file disebuah dir)

host name (melihat/menunjukkan set sistem)

kill (mengirim sinyal ke proses/daftar sinyal)

login (untuk masuk kemali ke root/user anda)

logout (untuk keluar dari user/root anda)

mkdir( membuat direktori )

mv (mengganti file)

rm -vi (menghapus files)

rm dir (menghapus direktori)

history (melihat file yang dijalankan)

tree (melihat struktur file dan direktory)

mv (mengganti nama file/dir)

Proses Booting LTSP

  1. Setelah proses POST selesai, kemudian kode Etherboot yang terdapat pada ROM network card tersebut akan dieksekusi.
  2. Kode buatan Etherboot tersebut kemudian akan mencari network card yang terpasang. Jika berhasil ditemukan maka network card tersebut akan di-initialisasi.
  3. Kode Etherboot tersebut kemudian akan mengirimkan sinyal ke jaringan berupa permintaan DHCP (DHCP Request). Permintaan DHCP tersebut akan disertai dengan MAC Address dari network card yang digunakan.
  4. DHCPD daemon yang aktif di server kemudian akan memperoleh sinyal permintaan tersebut, dan akan mencari data pada file konfigurasi yang ada.
  5. DHCPD daemon kemudian akan mengirimkan paket balasan, berisi beberapa informasi. Paket balasan ini akan berisi informasi berikut :
  6. IP Address untuk workstation tersebut
  7. Konfigurasi NETMASK untuk jaringan internal
  8. Lokasi file kernel yang akan di-download.
  9. Parameter tambahan untuk dikirimkan ke kernel, melalui baris perintah kernel.
  10. Kode Etherboot kemudian akan menerima balasan dari server, dan kemudian melakukan konfigurasi TCP/IP pada network card dengan parameter yang diterima.
  11. Dengan menggunakan TFTP ( Trivial File Transfer Protocol ), kode Etherboot kemudian akan berusaha untuk melakukan download file kernel dari server.
  12. Setelah kernel berhasil didownload sepenuhnya di workstation, kode Etherboot kemudian akan meletakkan kernel tersebut ke lokasi memory yang tepat.
  13. Kontrol kemudian akan diambil alih oleh Kernel. Kernel ini kemudian akan melakukan initialisasi seluruh system dan peralatan terpasang yang dikenali.
  14. Sampailah pada bagian yang sangat menarik. Pada bagian akhir dari kernel terdapat image filesystem, yang akan diletakkan di memory sebagai sebuah ramdisk, dan sementara di-mount sebagai root filesystem. Hal ini dilakukan dengan memberikan baris perintah root=/dev/ram0 yang kemudian akan memberitahu kernel untuk melakukan proses mount pada image tersebut sebagai root directory.
  15. Pada umumnya, setelah kernel selesai melalui proses booting, akan dieksekusi program init. Tetapi, pada kasus ini, dilakukan perubahan dengan menginstruksikan kernel untuk melakukan membaca shell script. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan parameter init=/ linuxrc pada baris perintah kernel.
  16. Script /linuxrc tersebut kemudian akan memeriksa PCI bus, mencari network card. Setiap perangkat PCI yang ditemukan, kemudian akan dilakukan proses pencarian pada file /etc/ niclist, untuk mencari apakah perangkat tersebut ada pada daftar tersebut. Jika ditemukan, maka nama module dari NIC tersebut akan diambil untuk kemudian dieksekusi. Untuk ISA card, module driver tersbut HARUS dirinci pada baris perintah kernel, disertai dengan IRQ atau parameter alamat yang dibutuhkan.
  17. Setelah network card berhasil diidentifikasi, maka script /linuxrc akan mengambil modul kernel yang mendukung network card tersebut.
  18. dhclient kemudian akan dijalankan, untuk melakukan query informasi ke DHCP server. Permintaan tersebut dilakukan untuk kedua kalinya, karena jika menggantungkan pada hasil query yang dilakukan oleh Etherboot, maka informasi tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima oleh kernel. Kernel kemudian akan mengabaikan konfigurasi NFS Server yang disertakan sebagai parameter tambahan root-path. Hal ini perlu dilakukan jika dimiliki NFS server yang berada pada server terpisah dari TFTP server.
  19. Ketika dhclient memperoleh jawaban dari server, kemudian akan dieksekusi file /etc/dhclient- script, yang mana kemudian akan berusaha membaca konfigurasi untuk kemudian melakukan setup pada interface eth0.
  20. Sampai pada proses ini, filesystem root berada di ramdisk.. Selanjutnya, script /linuxrc akan melakukan proses mount ulang pada filesystem melalui NFS. Direktori yang di-export pada server umumnya adalah /opt/ltsp/i386. Proses tersebut tidak bisa langsung melakukan proses w:st=”on”mount filesystem yang baru sebagai /. Proses w:st=”on”mount akan terlebih dahulu dilakukan pada / mnt. Kemudian, dilakukan pivot_root. pivot_root kemudian akan melakukan pertukaran filesystem root yang aktif dengan filesystem baru. Setelah proses tersebut, filesystem NFS akan di-mount pada /, dan filesystem root terdahulu akan di-mount pada /oldroot.
  21. Setelah proses mount dan pivot pada filesystem root yang baru selesai, shell script /linuxrc telah selesai melakukan perintah yang ada, dan saatnya diperlukan untuk menjalankan program init yang seharusnya.
  22. Init kemudian akan membaca file /etc/inittab dan mulai melakukan setting environtment workstation tersebut.
  23. Init menggunakan konsep runlevel, dimana tiap runlevel memiliki konfigurasi services yang berbeda. LTSP workstation akan diawali pada runlevel ‘2’. Konfigurasi tersebut dapat dilihat pada baris initdefault pada file inittab.
  24. Salah satu item yang berada pada urutan awal yaitu perintah rc.local yang akan aktif sementara workstation berada pada tahap ‘sysinit’.
  25. Script rc.local kemudian akan membuat ramdisk sebesar 1 mb untuk menyimpan file-file yang akan dibuat atau diubah.
  26. Ramdisk akan di-mount sebagai direktori /tmp. Semua file yang akan dituliskan sebenarnya akan diletakkan pada direktori /tmp, dan nantinya akan terdapat symbolic link yang mengacu pada file-file tersebut.
  27. Filesystem /proc kemudian di-mount.
  28. Jika workstation ditentukan untuk melakukan swap over NFS, maka direktori /var/opt/ltsp/ swapfile akan di-mount sebagai /tmp/swapfiles. Jika, belum tersedia swapfile untuk workstation tersebut, maka akan dibuat secara otomatis. Ukuran dari swapfile tersebut ditentukan pada file lts.conf .
  29. Swapfile kemudian akan diaktifkan, dengan menggunakan perintah swapon.
  30. Interface loopback akan dikonfigurasi. Interface tersebut nantinya akan menggunakan IP Address 127.0.0.1.
  31. Jika Local apps diaktifkan, maka direktori /home akan di-mount, sehingga aplikasi tersebut dapat mngakses direktori home.
  32. Beberapa direktori kemudian akan dibuat pada filesystem /tmp untuk menyimpan beberapa file sementara yang dibutuhkan sewaktu system berjalan. Direktori yang akan dibuat tersebut adalah sebagai berikut :
  • /tmp/compiled
  • /tmp/var
  • /tmp/var/run
  • /tmp/var/log
  • /tmp/var/lock
  • /tmp/var/lock/subsys

33. Proses selanjutnya adalah melakukan konfigurasi pada system X Windows. Pada file lts.conf, terdapat parameter yaitu XSERVER. Jika parameter tersebut tidak diketemukan, atau ditentukan menjadi “auto”, maka akan dilakukan proses deteksi. Jika card yang digunakan adalah PCI, maka akan diambil PCI Vendor dan Device id, untuk kemudian dicari apakah terdapat pada file /etc/vidlist.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: